Cari Blog Ini

Kamis, 25 November 2010

Serba Serbi Perkembangan Teknologi Komunikasi


Bagaimana swakelola e-book di World Wide Web oleh penulis yang sudah memiliki nama populer dapat menciptakan peluang sehingga namanya tercantum diantara nama-nama
penulis terkenal?

Caranya mudah penulis harus membuat karya yang menarik, siap menggunakan huruf  bisnis, bantuan judul buku sehingga memudahkan orang yang mencari buku tersebut. Dengan adanya unsur-unsur tersebut akan menciptakan peluang bagi penulis yang sudah popular namanya tercantum diantara nama-nama penulis terkenal.   


Akan terjadikah prediksi kematian buku tradisional pada abad ini, berarti hilangnya buku,
atau diganti menjadi sesuatu yang lain?

Mungkin saja bisa terjadi di era seperti sekarang ini dan dengan teknologi yang sudah berkembang. Tren media saat ini mulai bergeser dari media konvensional (analog/tradisional) menuju ke arah media online (digital). Media online dalam perkembangannya tumbuh menjamur dalam dua-tiga tahun terakhir. Demikian pula dengan tren media online di Indonesia, di mana perkembangan teknologi digital dan akses internet semakin mudah didapat, meskipun masih terbatas pada golongan dan wilayah  tertentu.  Media  online  (mobile)  sebagai  sebuah  media  baru
Ebook akhir-akhir ini sangat digemari oleh kalangan masyarakat luas, khususnya pelajar dan mahasiswa. E-book dan media online adalah sebuah media informasi seperti halnya buku, koran, majalah, tabloid dan media–media yang lain. Berdasarkan pemikiran saya, suatu saat nanti media-media yang berupa fisik seperti buku dan yang lainnya akan hilang digilas oleh perkembangan jaman dan teknologi.
Kenapa demikian?
Ada beberapa hal yang melandasi tergilasnya buku, dan E-book/media online akan menjadi media informasi dan ilmu pengetahuan utama, yaitu :
1.     Media informasi dan ilmu pengetahuan (buku, koran, majalah dll, red)  yang menggunakan bahan baku kertas semakin lama semakin mahal.

Dari pengalaman selama ini tidak pernah namanya buku, dll makin kesini makin murah. Yang ada makin mahal, pasti. Kenapa semakin mahal karena biaya produksi dan bahan baku yang semakin mahal. Dilihat dari bahan baku. Bahan baku kertas adalah kayu yang digunakan untuk bubur kertas (pulp). Harga kayu semakin mahal karena hutan (sebagai penghasil kayu) yang makin menyusut luasnya. Belum lagi setiap negara memberlakukan pengawasan yang ketat terhadap penebangan hutan. Bagaimana bila hutan tidak ada lagi atau setiap negara melarang menebang kayu dengan alasan global warming? Bakal semakin mahal tuh buku. Atau malah lebih parah lagi buku tidak bisa diproduksi lagi karena tidak ada bahan baku.

2.     Setiap orang dewasa ini dan di masa yang akan datang menginginkan sesuatu yang simple dan praktis.

Kita bisa memerlukan lemari atau tempat yang luas untuk menyimpan koleksi buku-buku/media fisik. Selain itu membawa buku kemana-mana pastinya selain berat, ribet tentunya tidak praktis. Berbeda dengan e-book, ribuan e-book yang kita miliki paling hanya memerlukan media sebesar jari tangan saja, yaitu flash disk. Cukup dimasukkan ke saku dan tentunya sangat ringan, hanya beberapa gram saja. Selain flash disk, media penyimpan lain pastinya adalah PC atau laptop. Hemat tempat dan sangat praktis.

3.                 Media-media offline kini berbondong-bondong meng-online-kan diri. Tada-tanda e-boook/media online akan menjadi informasi utama bisa kita lihat, seluruh media besar di seluruh dunia kini telah mempunyai media online (ambil contoh untuk Indonesia, Kompas, Bisnis Indonesia dll). Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti perusahaan-perusahaan itu hanya akan menggunakan media online. Sebagaimana halnya dengan detik.com.
Jadi persiapkan diri untuk menghadapi dunia informasi secara online.
Mari kita menuliskan ide dan pengetahuan dan dituangkan dalam bentuk e-book atau media online. Karena dengan demikian kita telah membantu menyelamatkan hutan dan bertindak secara nyata untuk mengurangi efek global warming.
 
Paket program radio komersial sifat formatnya homogen untuk segmentasi tertentu.
Sampai sejauh mana radio digital akan membuka cakrawala baru untuk audio?
 
Tidak akan bisa diprediksi sampai sejauh mana radio digital akan membuka cakrawala baru. Perkembangan teknologi informasi terutama internet mampu membuka cakrawala baru yang tidak terbayangkan sebelumnya. Saat ini kita bisa mendengar atau menyaksikan segala informasi, baik berita hingga hiburan melalui televisi internet (web TV) dan juga radio internet (yang juga dikenal sebagai web radio, net radio atau e-radio).
Terdapat sejumlah stasiun radio merambah dunia maya. Di antaranya, Suara Surabaya dengan www.suarasurabaya.net, atau Elshinta dengan www.elshinta.info, serta Radio Prambors, GEN FM, Hard Rock FM. Versi online radio ini selain dilengkapi dengan radio streaming, menyediakan radio on demand untuk pendengar yang tidak bisa mengikuti siaran mereka, juga memanfaatkan   media online dengan updating berita.
Radio online pun dituntut memiliki kecepatan dan akurasi berita sebagaimana karakter media baru seperti media online (mobile). Terlebih saat ini, beragam kebutuhan masyarakat membutuhkan dukungan informasi real time untuk pembuatan keputusan. Kebutuhan informasi yang cepat ini bisa difasilitasi oleh teknologi yang dimiliki radio digital. Penggabungan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan terakomodasinya kebutuhan mendapatkan informasi secara fleksibel, di mana saja dan kapan saja.
Suara radio online pun akan jauh lebih bersih dari modulasi radio konvensional (FM dan AM), dan karena digital maka receiver-nya menyediakan fasilitas merekam dan mengulang. Ditambah lagi adanya screen pada radio receiver, sehingga judul lagu atau pesan apapun bisa ditampilkan di sana.
orang mendengarkan Radio Internet karena:
1.     Untuk mendengarkan audio yang tidak tersedia di lain tempat (17%)
2.     Untuk mengontrol atau memilih musik yang dimainkan (15%)
3.     Sedikit iklannya (14%)
4.     Jenis musik yang ditawarkan sangat bervariasi (13%)
5.     Suara atau sinyal yang diterima lebih bagus/bersih daripada radio konvensional (8%)
6.     Tidak terlalu banyak suara dari broadcaster (8%)
7.     Karena ini hal baru (7%)


Dalam hal apa Internet dan World Wide Web, merevolusi cara radio ditransmisikan,
diproduksi dan dikenal?

Internet telah merevolusi cara berkomunikasi manusia, menembus jarak, ruang dan waktu. Dalam hal ini, kedua simpul mempunyai kedudukan yang setingkat, cara kedua, yaitu pesan kemudian ditransmisikan dalam arah yang  revolusi terjadi ketika WEB atau World Wide Web. Karakteristik medium baru ini memiliki kelenturan dan keleluasaan format sehingga sebuah informasi bisa disajikan dalam bentuk teks, suara, dan video, serta animasi dan ilustrasi. Khalayak media yang selama ini sebagai objek yang terkesan pasif, tidak demikian halnya dengan pengguna



media baru, seperti halnya radio online. Karena mereka bisa menjadi objek sekaligus subjek yang aktif dalam mencari, mengolah, menyimpulkan sendiri, dan kemudian menanggapi atau berkomentar balik.
Pendengar radio online adalah orang-orang yang terhubung dengan internet. Media konvergen memang telah mengubah the nature of mass communications. Diversifikasi informasi dan format distribusi informasi menjadi berubah. Lompatan perubahan itu antara lain terletak pada konten yang disajikan. ” ‘Konten’ adalah suara, tulisan, grafik, gambar baik diam maupun bergerak atau bentuk audio visual lainnya, sajian-sajian dalam bentuk program, atau gabungan sebagiannya dan/atau keseluruhannya yang dapat diciptakan, diubah, disimpan, disajikan, dikomunikasikan dan disebarluaskan secara elektronik”, (Suhono Harso Supangkat, “Road Map Konvergensi TIK”, Seminar ”Kajian Konvergensi TIK Oleh Staf Khusus Menkominfo Tahun 2008”, Bandung 1 Desember 2008).
 

Bagaimana perekaman digital dan teknologi mengedit membuka kemungkinan kreatif untuk komentator radio di seluruh dunia?


Tergantung segmentasi dan pendengar radio tersebut, terkadang perekeman digital yang disiarkan monoton dan penyampaian bahasa yang digunakan juga cenderung baku. Dibandingkan dengan ulasan yang menarik dan baru dari komentator radio akan cenderung didengar. Jadi meskipun dengan adanya perekaman digital, kreatifitas untuk pra komentator radio di seluruh dunia masih sangat diperlukan.


 
 





 

 

 

Rabu, 24 November 2010

AKTING


Akting : Wujud atau bentuk ekspresi, gerakan, mimik, atau ucapan dari pamain yang memerankan tokoh dan karakter dalam cerita.
Sebenarnya asal kata “ acting “ adalah “ to act” atau dalam bahasa Indonesia berarti “beraksi”. Itu sebabnya kita sering mendengar sutradara meneriakkan kata “action !” dibelakang kamera ketika aktor akan memulai aktingnya. Akting dengan demikian lebih berarti mengaksikan peran yang dimainkan.
          Dalam buku Seni Akting, Catatan – Catatan Dasar Seni Kreatif Seorang Aktor disebutkan bahwa Akting adalah wujud yang kasat mata dari suatu seni peragaan tubuh, yang menirukan perilaku – perilaku manusia mencakup segala segi, lahir dan batin, yang sebelumnya digagas terlebih dahulu, direka, dirancang, kemudian diselenggarakan di panggung untuk disaksikan penonton peminatnya sebagi bentuk seni efemeral.
          Akting non- realisme adalah akting dengan gerakan – gerakan besar, sehingga menampilkan sosok yang tidak naturalis dan tidak realistis, dan lazim dikatakan bentuk representasional. Seperti pada teater tradisional Indonesia, baik klasik seperti wayang wong, ketoprak, langendriyan dan lain sebagainya termasuk yang populer seperti Srimulat, Lenong.
          Sedangkan akting realisme merupakan gambaran aktor memainkan perannya dengan memperdayakan dengan betul alat – alat TRJ-nya atau Tubuh, Roh, Jiwa, sehingga darinya diperoleh tontonan tindak perbuatan dan perilakuan yang naturalis, yang artinya mewakili secara asasi kenyataan – kenyataan alami.
Dlam televisi, akting realis dilakukan benar – benar sesuai pada kenyataan perilaku manusia pada sehari – hari dan tidak perlu dilebih – lebihkan seperti di atas panggung. Dalam frame televisi mampu menangkap pergerakan akting yang sedikit atau kecil namun sudah menandakan satu maksud tertentu. Seperti pada mata manusia, dengan mata seorang aktor sudah dapat dilihat maksud yang akan diperlihatkan.

CARA MENGOLAH AKTING
READING
Setelah para pemeran terkumpul, tahap berikutnya adalah mengarahkan para pemeran sesuai dengan skenario dan pencapaian kreatif yang diinginkan sang sutradara. Yang
pertama dilakukan adalah duduk bersama-sama dan membaca skenario (reading) sesuai porsinya, dibimbing oleh asisten sutradara.Guna reading adalah untuk mengetahui durasi dialog dalam sebuah adegan sehingga durasi adegan tersebut
dapat diperkirakan. Dari sini, asisten sutradara akan mendapatkan perkiraan durasi film yang lebih akuran.


REHEARSAL
Setelah beberapa kali melakukan reading, para pemeran melakukan rehearsal (latihan) sesuai porsinya di bawah bimbingan asisten sutradara. Dalam Rehersal, tata gerak (blocking), mimik dan bahasa tubuh pemeran diarahkan sesuai dengan keinginan sutradara. Asisten sutradara mengarahkan semua perbaikan, termasuk juga
membangun kepercayaan diri dan mood pemeran. Dengan demikian, pada saat shooting semuanya bisa berjalan dengan lancar.

LATIHAN AKTING
Setelah reading dan rehearsal kemudian sutradara mengarahkan pemain untuk latihan acting tanpa membaca naskah. Dalam latihan ini sudah termasuk membangun mood dari para pemeran, hingga tercapai acting yang pas dan kontinyu antara scene dengan scene berikutnya.

PENYUTRADARAAN


1.     Pengertian Sutradara
Sutradara berasal dari kata :
SUTRA : Ikthisar kitab Weda Samtika. Atau naskah.
Dhara : Pendukung, pembawa.
Dalam arti sempit adalah : pembawa naskah.
Dalam arti luas : Koordinator pelaksanaan tugas – tugas teater / drama atau film.
Jadi pengertian sutradara menurut Sir Tyrone guthrie, Sutradara disamakan dengan seorang Dirijen pada suatu orkes simponi. Jadi sutradara harus mampu menafsirkan naskah dan memimpin seluruh pertunjukan. Selain itu Oscar Brockett menyatakan bahwa seorang sutradara adalah orang yang menetukan bagaimana suatu skenario ditafsirkan. Jadi sutradara bertindak sebagai seniman pemikir dan sutradara juga sebagai seniman kreatif.
Namun apabila sutradara dikaitkan dengan produksi, maka sutradara adalah pemimpin tertinggi dalam program atau produksi yang bertugas menginterprestasikan satu bentuk naskah kedalam satu paket produksi audio visual. Dengan demikian sutradara adalah seorang yang berpengalaman dan seorang spesialis dalam tugasnya dan selalu mempertanggungjawabkan hasil  karyanya, baik dari segi artistik maupun segi teknik produksinya kepada seluruh komponen yang terkait.

2.     Peranan dan Tanggung jawab seorang sutradara dalam produksi.
a.     Peranan Sutradara
-       Sutradara sebagai koordinator, sutradara harus mampu mengkoordinir kerabat kerja. Kemampuan mengkoordinir yang baik akan mempengaruhi lancarnya keja produksi.
-       Sutradara sebagai organisator, sutradara harus mampu dan menguasai management. Karena sebuah kerabat kerja produksi merupakan organisasi kecil dan harus dijalankan oleh seorang meneger yang mengerti organisasi.
-       Sutradara sebagai konseptor, sutradara harus mempunyai konsep yang jelas. Konsep yang jelas akan mempermudah perencanaan produksi, yang akan menyangkut artis, tata artistik, pengambilan gambar, hingga editing.
-       Sutradara sebagai motor, sutradara harus mampu menggerakan seluruh kerabat kerja untuk bekerja sama dengan baik sesuai dengan tanggung jawabnya masing – masing dan sesuai tugasnya.
-       Sutradara sebagai guru, sutradara harus mampu mendidik dan mengayomi serta memberi contoh yang baik dan mempunyai rencana kerja beserta langkahnya yang mantap dan jelas.


b. Tanggung jawab Sutradara.
-       Memilih naskah, sutradara memilih naskah apabila tidak ditentukan oleh produser, tapi lazimnya sutradara melaksanakan produksi berdasarkan naskah yang sudah ditentukan.
-       Mempelajari naskah, sutradara harus mampu mempelajari naskah dengan cermat dan mencoba untuk menafsirkam kedalam produksi.
-       Menentukan nada dasar, sutradara harus menentukan nada dasar yang merasuk karya lakon dan memberi ciri kejiwaan dan selalu nampak dalam penyutradaraan.
-       Casting ( Memilih Pemain), sutradara setelah mempelajari naskah kemudian menentukan pemain yang pas, yaitu dengan cara casting atau memilih pemain bersama produser dan penulis naskah. Ada 5 macam cara pengcastingan, yaitu
1.     Casting by Ability : berdasarkan yang terpandai atau terbaik untuk memilih peran utama atau penting.
2.     Casting to emosional temprament : memilih pemain berdasarkan pengamatan dari kehidupan atau tingkah laku seseorang yang mempunyai kesamaan emosi, gaya atau pembawaan.
3.     Casting by type : pemilihan berdasarkan kecocokan fisik seseorang.
4.     Antitype casting : pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik.
5.     Therapeutic casting : pemilihan pemain yang bertentangan dengan watak asli seseorang dengan karakter yang akan dibawakan, dengan maksud menyembuhakn ketidakseimbangan jiwanya.
-       Membuat Rencana Kerja
a.     Pra produksi
1.     Membuat jadwal latihan dan Latihan bersama pemain.tahap latihan yang harus dilakukan adalah. Reading atau membaga naskah bersama. Kemudian menhafal naskah dilanjutkan dengan pergerakan. Kemudian latihan bloking beserta dialog.
2.     Meeting produksi, melaksanakan pertemuan dengan seluruh kerabat kerja. Dalam hal ini sutradara harus mampu menerangkan konsep produksinya secara terperinci dan jelas sesuai dengan tanggung jawab kerabat kerja lainya. Mulai dari tehnik produksi, pengambilan gambar, lokasi shooting, tata artistik, tata lampu, audio dan lain sebagainya.
3.     Membuat Shooting script, yaitu catatan atau panduan pengambilan gambar sesuai dengan urutan shooting yang akan dilakukan.
4.     Bersama Produser dan Pimpinan produksi membuat braekdown shooting, yaitu membuat urutan – urutan shooting berdasarkan naskah dan lokasi shooting beserta yang dibutuhkan dalam pengambilan gambar.




b.    Produksi
1.     Sutradara memimpin jalanya produksi berdasarkan konsep yang sudah ada, baik dari shooting script maupun breakdown shooting yang telah dibuat dan sedapat mungkin sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh produser dan pimpinan produksi.
2.     Sutradara menggerakan seluruh eleman kerabat kerja sesuai tanggung jawabnya masing – masing.
3.     Mengarahkan pemain untuk melakukan adegan sesuai naskah.
4.     Mengarahkan cameraman untuk pengambilan gambar dan lain sebagainya.

c.     Pasca Produksi
1.     Memimpin jalanya editing.
2.     Menentukan musik atau ilustrasi yang digunakan.